Refleksi Masjid Agung Jawa Tengah

MAJT dalam lensa 10mm

Bahagianya usai mencicipi senin rasa weekend. Libur Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin membuat saya jadi menengok ke belakang saat senang-senangnya memotret masjid masjid. Termasuk sebenarnya menara masjid di depan rumah tinggal saya sekarang. Namun yang paling berkesan dari potret memotret masjid adalah saat di Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT.

sudah cukup lama dari kunjungan terakhir saya ke masjid seluas 10 hektare ini. sebenarnya tidak hanya sekali saya sempat menginjakkan kaki di sini. sebelumnya, sempat saya menghadiri pernikahan seorang kawan di gedung pertemuan dalam kompleks MAJT. Namun kala itu, tidak banyak dokumentasi yang dapat tersimpan.

Masjid Agung Jawa Tengah tidak hanya menyediakan tempat ibadah. Kabarnya memang dimaksudkan juga untuk tujuan wisata religi. Menara Al Husna menjulang setinggi 99 meter dengan Museum Kebudayaan Islam di lantai 2 dan 3. Sedang di puncak menara, terdapat 5 teropong yang dapat melihat kota semarang dari atas. Masjid Agung ini juga dilengkapi wisma penginapan sebanyak 23 kamar dalam berbagai pilihan kelas. Jangan lupa pula mencicipi sensasi unik  di lantai 18 Menara Al Husna dimana  terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat.

Selain luas dan ragam fasilitasnya, saya menemukan titik menarik untuk membidikkan kamera. Jika selama ini kesulitan dengan memotret pencerminan dalam air karena air yang tidak cukup tenang, kali ini saya menemukan marmer. Letaknya yang tepat di tengah menghadap megah dan uniknya bangunan arsitektur masjid ini, memanjakan fotografer amatiran seperti saya.

Menggunakan lensa 18mm

Saat itu saya masih belum puas, karena terlalu banyak bagian masjid yang terpotong. Akhirnya saya mencoba lagi dengan menggunakan lensa yang lebih lebar. Beruntung saat itu karena dalamevent Hunting Bareng NX Club, saya bisa dapat pinjaman lensa 10mm. Hasil pertama dari kejauhan bisa menghasilkan gambar seperti pada awal artikel ini. Selanjutnya saya letakkan di marmer tempat saya membidik refleksi sang masjid, maka begini hasil akhirnya.

alhamdulillah, hasilnya bisa bikin yang motret jadi sukak sama hasil jepretannya sendiri. Walaupun ketika dilombain, ya gak menang juga sih #ehcurhat.

26 thoughts on “Refleksi Masjid Agung Jawa Tengah

    1. Belum pernah kesana pas dapat payung nya terbuka e. Tapi kalo terbuka juga, kayanya jadi ketutup gak dpt view masjid utuh gak sih?

  1. Lama tidak main kemari, alamat blognya sudah pakai TLD saja nih. Sepertinya self-hosting juga ya? Selamat, ya.
    Fotonya bagus banget… ya Tuhan saya jadi ingin ganti kamera deh supaya fotonya bagus seperti ini (plak, padahal ini mah tergantung yang motret yak, haha). Betulan, saya susah membedakan mana yang bangunan asli mana yang pantulan. Dirimu pintar memotret, Mbak. Marmernya juga kelas wahid soalnya pantulannya ciamik banget.
    Keren ya masjid ini. Cuma saya masih belum tahu tempatnya di Semarang sebelah manakah? Haha. Mungkin kalau ke Semarang lagi saya pengen coba foto stasiun Semarang Gudang dalam pantulan, kebetulan bangunannya ada di dekat air, hehe.

    1. saya juga ingin ganti kameraaaaa hiks hiks
      yang bangunan asli yang bagian lebih terang dari bagian bayangannya, karena warna asli marmernya hitam.
      saya juga gak hafal jalan ke sananya, tapi sepertinya dari kejauhan sudah kelihatan menaranya yang menjulang, juga sudah cukup tenar, jadi bisa pakai jurus GPS alias Gunakan Penduduk Setempat ya.
      Stasiun Semarang Gudang itu dimana ya?

  2. bagus-bagus, masjid di Jawa Tengah itu, sayang belum sempat mencicipi solat disalah satunya. Pernah mampir ke Demak yang katanya kota wali, itu juga bagus masjid Demak.. tapi lewat aja nggak masuk 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *