Buka Puasa Bareng Yamaha

Apa acara paling hits sepanjang Ramadhan?

Yups, Buka Puasa Bersama.

Sejak sebelum Ramadhan, jadwal buka puasa bersama saya belum-belum sudah terisi beberapa. Sampai-sampai saya mengupload kalender yang sudah saya tandai di twitter. Berawal dari situ, saya dicolek Kak Elzha untuk ikutan Buka Puasa Bersama bareng Blogger dan Vlogger oleh Yamaha Jogja. Alhamdulillah jadwalnya cocok dan ternyata lokasinya lumayan dekat dengan rumah, plus waktunya weekend.

(more…)

Berburu Oleh-oleh Jogja di Dagadu Djokja

foto keluarga depan Yogyatourium habis borong oleh oleh

Apa yang ada di fikiranmu jika dicetuskan kata ‘oleh-oleh jogja’? Selain oleh-oleh berbentuk kuliner yang tenar seperti bakpia, yangko, gudeg dan segala ragamnya. Ada pula oleh-oleh yang Jogja banget seperti pernak pernik lucu, batik, dan kaos dagadu. Saya bahkan terlebih dahulu brand produk kaos kreatif dari Jogja ini sebelum akhirnya menjadi penduduk tidak resmi di sini.

Dagadu memang telah lahir sejak 1994. Saya sempat bertandang ke Yogyatourium Dagadu saat usianya 20 tahun. Kala itu kumpulan desain unik dan kreatif setiap tahunnya, ditampilkan lagi dengan apik. Bisa disimak foto-foto maupun kesan saya tentang 20 tahun Dagadu Djokja di Yogyatourium. Pernah juga saya ceritakan betapa saya senang berkunjung berkali kali ke Yogyatourium, yang saat Pemilu 2014, turut meramaikan sebagai Komisi Pemilihan Oblong. Unik, kreatif, beda dan pastinya menghibur jiwa jiwa yang galau.

(more…)

New Saphir Hotel Jogja

Libur emang belum tiba, tapi bagi penganut prinsip Liburan Berencana, pastinya udah bikin plan matang donk buat liburan semester, liburan akhir tahun, ataupun libur apa aja yang udah di depan mata. .
Kalo Jogja jadi destinasi kamu, coba deh masukkan New Saphir Hotel sebagai tempat menginap kamu. Ada berbagai pilihan kamar yang bisa memanjakan istirahatmu selama liburan. Masih didukung dengan berbagai fasilitas yang sanggup menyemarakkan liburan kamu. Plus lagi berbagai pilihan menu makanan yang menggagalkan diet kamu #ehgimana.

 

Baiklah mari kita bicara Room dahulu. Berikut tipe-tipe room di New Saphir:

 

Superior              : ini tipe room paling ekonomis. Meski begitu tetap terasa luas dengan 30m2. Tipe kamar ini paling banyak di New Saphir Hotel. Untuk publish rate nya Rp. 850,000++

 

Deluxe                 : hampir mirip dengan Superior, hanya saja room Deluxe ini lebih luas sebesar 35m2.  Terdapat 54 kamar tersedia untuk tipe ini dengan publish rate Rp. 950,000++

 

Family                  : Untuk wisata keluarga, tidak perlu khawatir terpisah-pisah. Di room seluas 45m2 ini, tersedia 2 single bed, dan 1 queen bed. Lebih hemat tentunya dengan publish rate Rp. 1,300,00++. Tersedia hanya 5 room saja, jadi jangan sampe kehabisan ya.

 

Royal Suite         : kamar seluas 106m2 ini fasilitas nya super komplit, bisa buat guling guling, maen bulu tangkis, dan yoga tiap pagi saking luasnya. Breakfast juga bisa dianter ke room, dan sarapan unyu unyu di meja makan super unyu ini. Selain minibar juga ada pantry dengan microwave, jadi urusan perut aman lah ya. Bisa connecting door juga dengan kamar superior di sebelah jadi pas banget kalo rame rame atau sekeluarga besar. Royal Suite ini hanya ada satu-satunya dengan publish rate Rp. 5,000,000++.

 

Selain kamar tidur, New Saphir juga menyediakan 12 meeting room dengan masing masing luas dan fasilitas sesuai kebutuhan. Pilihan meeting room ini bisa mengakomodir kebutuhan kelas kecil seperti kapasitas 15-30 orang, hingga ballroom yang sanggup menampung 250-800 orang. Asyiknya, ruang ruangan ini banyak terdapat cermin, sehingga sangat memuaskan hasrat selfieholic. Di Malioboro Ballroom misalnya, cermin di langit langit bisa mebuat wefie kami jadi makin seru karena seolah olah wefie via drone. Untuk Ballroom, disediakan private entrance.

Fasilitas lain yang bisa dinikmati para tamu adalah kolam renang, area tennis, fitness centre dan business center. Juga ada lounge yang cozy, serta poolside  venue yang bisa digunakan untuk cocktail party. Lebih seru lagi ketika berbicara Restaurant.

New Saphir lebih banyak fokus pada makanan tradisional. Dengan begini, setiap tamu yang menginap lebih bisa merasakan Jogja yang sesungguhnya. Gudeg, Mangut Lele, Bakmi Jawa, menjadi hidangan istimewa di sini. Ditambah cemilan local seperti tiwul, gethuk, aneka jajanan pasar, rujak, dan yang favorit Manuk Enom. Pengalaman istimewa seperti ini benar-benar paket komplit liburan, bukan?

 

 

 

Refleksi Masjid Agung Jawa Tengah

MAJT dalam lensa 10mm

Bahagianya usai mencicipi senin rasa weekend. Libur Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin membuat saya jadi menengok ke belakang saat senang-senangnya memotret masjid masjid. Termasuk sebenarnya menara masjid di depan rumah tinggal saya sekarang. Namun yang paling berkesan dari potret memotret masjid adalah saat di Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT.

sudah cukup lama dari kunjungan terakhir saya ke masjid seluas 10 hektare ini. sebenarnya tidak hanya sekali saya sempat menginjakkan kaki di sini. sebelumnya, sempat saya menghadiri pernikahan seorang kawan di gedung pertemuan dalam kompleks MAJT. Namun kala itu, tidak banyak dokumentasi yang dapat tersimpan.

Masjid Agung Jawa Tengah tidak hanya menyediakan tempat ibadah. Kabarnya memang dimaksudkan juga untuk tujuan wisata religi. Menara Al Husna menjulang setinggi 99 meter dengan Museum Kebudayaan Islam di lantai 2 dan 3. Sedang di puncak menara, terdapat 5 teropong yang dapat melihat kota semarang dari atas. Masjid Agung ini juga dilengkapi wisma penginapan sebanyak 23 kamar dalam berbagai pilihan kelas. Jangan lupa pula mencicipi sensasi unik  di lantai 18 Menara Al Husna dimana  terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat.

Selain luas dan ragam fasilitasnya, saya menemukan titik menarik untuk membidikkan kamera. Jika selama ini kesulitan dengan memotret pencerminan dalam air karena air yang tidak cukup tenang, kali ini saya menemukan marmer. Letaknya yang tepat di tengah menghadap megah dan uniknya bangunan arsitektur masjid ini, memanjakan fotografer amatiran seperti saya.

Menggunakan lensa 18mm

Saat itu saya masih belum puas, karena terlalu banyak bagian masjid yang terpotong. Akhirnya saya mencoba lagi dengan menggunakan lensa yang lebih lebar. Beruntung saat itu karena dalamevent Hunting Bareng NX Club, saya bisa dapat pinjaman lensa 10mm. Hasil pertama dari kejauhan bisa menghasilkan gambar seperti pada awal artikel ini. Selanjutnya saya letakkan di marmer tempat saya membidik refleksi sang masjid, maka begini hasil akhirnya.

alhamdulillah, hasilnya bisa bikin yang motret jadi sukak sama hasil jepretannya sendiri. Walaupun ketika dilombain, ya gak menang juga sih #ehcurhat.

Tebar Virus #safetymind dan #safetyriding

Seminggu lalu saya berkesempatan mengikuti Safety Riding Education. Senang banget soalnya sadar diri kan, kalo dalam berkendara saya ini masih cupu dan cemen banget. Apalagi dapat info kalo selain dilatih kelihaian berkendara, juga ada edukasi soal safety riding nya, dan bisa test drive sepeda motor kece keluaran Yamaha yang selama ini cuma saya pandangi di jalanan.

Pelatihan safety riding ini diisi oleh Yamaha Riding Academy Jogja, organisasi di bawah YRA Indonesia dan dibawah naungan PT Yamaha Indonesia. Fokus YRA adalah edukasi keamanan berkendara. Dan untuk pelatihan serta sosialisasi safety riding, YRA memiliki instruktur-instruktur bersertifikat dan ahli di bidangnya. Tentunya dengan mengikuti kegiatan ini, saya belajar pada tempat dan instruktur yang tepat ya, kan?

pengarahan sebelum praktek
ini bukan disetrap, tapi pengarahan sebelum praktek

(more…)

Kisah Sandal Jepit

Well, sesungguhnya udah mau bikin judul “kisah sepasang sandal jepit”. Tapi kemudian saya berpikir kalau akhir akhir ini “sepasang” bisa saja menjadi kata sensitif. Bisa saja dianggap tidak berperikejombloan ketika menyematkan hal hal yang berbau sepasang. Apalah saya ini yang tidak pakar dan tidak peka pada tema tema seperti itu. Ditambah lagi kondisi pribadi saya yang juga malas menjawab pertanyaan kepo soal kata yang akhirnya saya hapus dari rencana judul —you know what.

Okay mari kita fokus.

Setiap pejalan pasti tak lepas dari alas kaki nya. Entah itu sandal, sepatu, atau nyekerman. Begitu juga saya yang jarang jalan jalan ini. Sepasang sandal selalu terselip dalam setiap perjalanan saya. Sebagai penghargaan atas dedikasi mereka berdua pada saya, tak jarang saya turut mendokumentasikan kebersamaan mereka sepanjang perjalanan saya.